Tips Memilih LCD Monitor


1. Size Screen
2. Resolusi Native
3. Brightness
4. Contrast Ratio
5. Response Time
6. Viewing Angle
7. Connector
8. Dead Pixels

1. Size Screen.

Sama halnya dengan memilih monitor yang jernis CRT, kita menentukan terlebih ukuran diagonal monitor CRT, monitor CRT dengan ukuran 17 rata-rata memiliki diagonal viewable sekitar 15-16 saja. Berbeda dengan ukuran Monitor LCD yang ukuran diagonal nya 17 memiliki diagonal viewable 17 juga. Dengan kata lain LCD 17 daerah viewable nya efektif setara dengan monitor CRT 18 & 19• . Beberapa LCD juga ada yang memiliki layar jenis wide / lebar (16:9). Untuk para gamer dan yang hobby menonton film, LCD dengan layar lebar sangat cocok tetapi juga harus didukung oleh VGA dalam CPU anda. Pastikan Anda memilih jenis dan ukuran layar yang sesuai. Untuk saat ini, LCD 15 dan 17  tampaknya menjadi favorit karena harganya semakin terjangkau.

2. Resolusi Native.

LCD pada umumnya hanya bekerja pada satu resolusi saja, yaitu resolusi native-nya. Diluar resolusi tersebut, biasanya kualitas tampilan menjadi tidak maksimal terutama pada text. LCD akan mengurangi ukuran layar atau melakukan interpolasi untuk mengompensasi penggunaan resolusi non-native.

Hal ini tentunya akan mengurangi kenyamanan Anda dalam menggunakan LCD. Oleh sebab itu, pastikan Anda membeli LCD dengan resolusi native yang paling sering Anda gunakan. LCD 15 umumnya memiliki resolusi native 1024x 768 pixels, sementara LCD 17 memiliki resolusi 1280 x 1024 pixels.

3. Brightness.

Brightness atau luminance (tingkat pencahayaan) merupakan parameter yang menunjukkan tingkat kecerahan dari sebuah monitor. Disadari atau tidak, pada ruangan gelap Anda mungkin cenderung menyukai monitor yang agak redup (agar mata tidak silau dan cepat lelah). Sebaliknya, dalam kondisi ruangan yang cukup terang, Anda cenderung mengatur brightness di posisi yang agak tinggi. Tujuannya adalah agar bisa menampilkan gambar dengan jelas dan tidak kalah dengan kondisi ruangan yang lebih terang. Tingkat brightness atau luminance biasanya memiliki satuan cd/m2 (candelas per-meter persegi). CRTbiasanya memiliki luminance sekitar 100-150 cd/m2, sementara LCD biasanya di atas 200 cd/ m2. Perhatikan juga uniformity atau tingkat kerataan brightness pada layar. Seharusnya, layar bagian kiri atas akan memiliki brightness yang sama dengan brightness pada bagian kanan bawah, demikian juga pada bagian lainnya. Umumnya, LCD memiliki uniformity yang lebih baik daripada CRT.

4. Contrast ratio.

Contrast ratio ini sendiri merupakan perbandingan dari warna hitam yang paling gelap dengan warna putih yang paling terang. Semakin tinggi contrast ratio, idealnya akan semakin baik karena gradasi dari hitam terhitamdengan putih terputih akan semakin tinggi.

Contrast ratio ini secara sederhana bisa didapat dari hasil pembagian putih terputih dengan hitam terhitam. Secara tidak langsung, contrast ratio akan bergantung kepada brightness juga.

Efeknya, produsen cenderung meningkatkan brightness untuk mendapatkan nilai putih terputih yang setinggi-tingginya. Hal ini bisa berdampak negatif karena brightness yang terlalu tinggi cenderung membuat warna menjadi out Brightness yang terlalu tinggi juga kadang membuat warna hitam bergeser menjadi abu-abu. Hasil terbaik adalah jika produsen bisa memberikan brightness tinggi untuk mendapatkan nilai putih terputih yang tinggi, namun tetap mempertahankan nilai hitam terhitam yang rendah. Sayangnya, tidak banyak LCD yang bias melakukan hal ini. Jadi, sebagai konsumen sebaiknya Anda tidak terlalu terpesona dengan janji contrast ratio atau brightness yang tinggi. Pastikan juga pada contrast ratio dan brightness yang tinggi tersebut, tampilan monitor masih layak digunakan (dalam arti warna tidak menjadi wash-out hanya karena brightness diangkat terlalu tinggi).

5. Response Time.

Response time merupakan hal unik yang hanya dimiliki oleh monitor jenis LCD. Untuk membentuk warna, setiap crystal pada pixel LCD akan diberi arus. Arus ini akan mengubah kondisi dari crystal, bisa dari kondisi menjadi kondisi atau sebaliknya. Response time merupakan waktu yang dibutuhkan oleh crystal untuk berubah kondisi dari menjadi off ataupun sebaliknya. Kondisi crystal dari off ke on.disebut sebagai rising time, sementara kondisi dari on ke off sering disebut sebagai falling time. Rising time biasanya lebih cepat daripada falling time. Falling time yang lambat cenderung menyisakan efek ghosting pada layar, khususnya pada tampilan yang membutuhkan refresh layar cepat (seperti adegan cepat dalam game atau film). Hal ini biasanya menjadi salah satu kelemahan LCD keluaran awal. LCD generasi baru dengan response time di bawah 16 ms umumnya sudah tidak mengalami masalah ghosting. Catatan lain: LCD tidak dipengaruhi oleh refresh rate. Hal ini disebabkan prinsip kerja LCD yang menggunakan crystal on/off, bukan refresh layar. LCD pada umumnya memiliki refresh rate 60 atau 75Hz, dan faktor ini tidak mempengaruhi kenyamanan tampilan seperti pada CRT. Angka response time juga sering menjadi faktor yang bisa dijual kepada calon konsumen. Produsen biasanya hanya mencantumkan response time sekian ms, namun tidak dijelaskan response time tersebut pada saat crystal berubah dari warna apa ke warna apa. Perubahan dari warna putih ke hitam mungkin membutuhkan waktu x ms. Namun, perubahan dari warna putih ke merah bisa jadi memakan waktu yang lebih lama. Dua LCD dengan response yang sama bisa memiliki kualitas tampilan berbeda, tergantung perubahan warna yang sedang terjadi.

6. Viewing Angle.

LCD generasi awal umumnya memiliki viewing angle yang sempit. Tampilan akan menjadi gelap jika dilihat dari sisi yang agak miring. LCD generasi baru sudah memiliki viewing angle yang lebar, bahkan sangat lebar. Beberapa LCD yang diuji bisa dilihat dari sudut yang sangat lebar (lebih dari 70 derajat dari satu sisi, atau 140 derajat horizontal). Bahkan ada LCD yang mengklaim viewing angle sampai 89 derajat dari satu sisi horizontal (atau sampai 178 derajat dari sisi kiri-kanan). Satu sisi negatif dari viewing angle yang terlalu lebar adalah tampilan Anda lebih mudah dilihat atau diintip oleh rekan kerja.

7. Konektor LCD

memungkinkan gambar dikirim dari video card via konektor digital. Konektor yang umum untuk LCD adalah Digital Visual Interface (DVI). Jika video card dan LCD Anda mendukung DVI, maka penggunaan konektor ini bisa memberikan kualitas tampilan yang lebih baik. Selain itu, beberapa pengaturan OSD juga akan dilakukan secara otomatis ketika Anda menggunakan DVI. Hal ini akan mempermudah pengaturan. Tanpa harus bersusah payah, Anda bisa langsung menikmati kualitas tampilan prima. Bagi Anda yang kurang beruntung, maka konektor analog D-Sub yang umum digunakan pada CRT juga masih bisa digunakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s